'Bout MySelf#4 : S.O.S

 

S.O.S / I Need Somebody

 

Di dalam sebuah perjalanan mengisi kekosongan. Seorang anak meringkuk ketakutan. Tak ada air mata, hanya tatapan kekosongan. Seperti tatapan yang kukenal. Kedua tangannya menutupi kedua telinganya.

Siapa anak itu ?

Ada apa dengan wajahnya?

Kenapa dia meringkuk di sana?

Apakah dia baik-baik saja?

Apakah dia masih hidup?

Seolah mengerti dengan rasa penasaranku, dengan tatapan matanya ia memberiku pertanda agar aku mendekatinya. Kemudian dengan langkah kecil aku datang padanya, sedikit demi sedikit menghapus jarak, hingga aku bisa merasakan hembusan napasnya, aku berhenti. Dengan lirih dia berkata, “Jika kamu begitu penasaran, akan kuberi tahu”.

Katanya, “Aku adalah seseorang yang dipenuhi oleh rasa kesepian terlukis di wajahku.”

Katanya, “Aku sembunyi dari dunia yang terlalu bising dan bergembira atas keterpurukan seseorang, namun dunia yang kuhuni sekarang pun terlalu dingin,”

Ucapannya terhenti, kedua tangannya meraih tanganku, sedikit senyuman terlukis di wajahnya.

“Apa aku terlihat baik-baik saja?” tanyanya.

Telapak tangannya yang dingin, perlahan naik meraba wajahku

“Apa kamu baik-baik saja?” tanyanya, lagi.

Retina matanya yang lembut menatap tajam padaku, kekosongan yang memenuhi ruangan, rasa dingin yang menyebar dari telapak tangannya, membuatku terkunci. Sedangkan mulutnya tak berhenti berucap lirih.

“Lihatlah baik-baik” katanya

Aku melihatmu.

“Bagaiman perasaanku? Bagaimana penampilanku? Bukankah kamu lebih tahu? “ Katanya

Anak kecil ini, apa dia mengenalku?

“Jika bisa, jika seandainya kamu mengijinkan. Aku ingin melarikan diri dari ruangan ini”

Anak ini, apa aku mengenalnya?

“Jika mau, kau bisa mengeluarkanku dari sini atau setidaknya aku ingin seseorang memelukku”

Ya, aku mengenalnya. Anak ini, aku mengenalnya.


Setiap kalimat yang terucap dari mulut anak itu seolah melumpuhkan seluruh indra yang ku punya. Kata-katanya yang semakin tajam lambat laun menusukku.

Seorang anak kecil yang meringkuk ketakutan dalam ruangan yang sepi dan dingin. Ia telah sampai pada titik di mana ia tidak bisa mengatasinya lagi. Pada akhirnya aku hanya bisa mengucapkan maaf kemudian merengkuhnya dan memeluknya dengan erat. 


Komentar

Postingan Populer